Naik Sepeda, Yuk!
Namanya adalah Sita Karnita. Dia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang mengendarai sepeda. Dia lebih memilih sepeda karena selain bisa lebih menghemat ongkos, mengendarai sepeda juga lebih ramah lingkungan. Hari ini Sita pulang sendirian karena Anna, sahabatnya Sita, naik angkot untuk pulang, sementara sepedanya diperbaiki. Naik sepeda menuju ke rumah Sita hanya membutuhkan waktu 15 menit.
Ketika Sita sampai di pertigaan dekat Warung Bu Inem, sebuah mobil yang datang dari arah yang berlawanan melaju dengan kecepatan yang tinggi. Sita pun langsung minggir dan mengerem sepedanya. “Fiuh, untung aku gak kenapa napa!” pikir Sita.
Tiba-tiba penumpang mobil tersebut turun dengan mukanya yang kurang menyenangkan. Sita sangat terkejut, karena ternyata penumpang mobil itu adalah Dira. Ya, Dira adalah anak yang paling kaya di sekolah Sita, sayangnya kekayaannya itu membuatnya menjadi sombong.“Heh, punya mata gak sih? Nih mobil tuh udah hampir ketabrak sama sepeda butut kayak gitu! Ini tuh mobil mahal, kalo ditabrak sama sepeda butut kayak gitu, ya bakal butut juga nih mobil!” maki Dira pada Sita dengan sombongnya.
“Dir, aku tuh gak nabrak mobil kamu ya! Gimana mau nabrak? Aku aja kaget pas mobil kamu ngebut, udah bagus bagus aku minggir!” jelas Sita dengan singkat.
“Oh? Lagian jaman gitu ke sekolah naik sepeda? Hah? Ke sekolah naik mobil dong!” pamer Dira dengan sombong.
“Susah juga ya ternyata ngomong sama orang kayak kamu, maunya ngambil yang ribet! Ckckck...” kata Sita sambil menyindir Dira. “Udah ah, aku mau pulang aja, males berurusan sama orang susah!” lanjut Sita sambil menyindir Dira.
“Ya udah, baguslah kalo nyerah!” balas Dira dengan penuh kemenangan.
Akhirnya mereka pun mengakhirinya dengan pergi ke rumah masing-masing. Ketika Sita sampai di rumah, ternyata Anna sudah menunggu Sita. Ya, mereka memang sudah merencanakan ini dari kemarin untuk mengerjakan tugas PLH bersama-sama.
“Jadi apa yang bakal kamu buat untuk tugas kali ini?” tanya Sita pada Anna.
“Kayaknya aku bakal buat artikel mengenai penggunaan AC, sebenernya kan penggunaan AC bisa diganti dengan yang lebih ramah lingkungan, seperti kipas angin atau kalau perlu pendingin alami, maksudku hanya udara bebas!” jelas Anna dengan mantap.
“Wow, bagus juga idemu!” puji Sita pada Anna.
“Lalu kamu sendiri gimana?” tanya Anna.
“Aku masih bingung, karena untuk menjaga bumi ini banyak yang bisa kita lakukan.” Jelas Sita.
Mereka pun akhirnya mengerjakan tugas bersama-sama. Tak terasa sekarang sudah jam 5 sore, tugas kami juga sudah selesai dikerjakan dan Anna pun segera pamit.
Sementara itu di rumah Dira...
“Dira, kamu tuh bisa gak sih ke sekolah ga usah naik mobil? Rumah kita ini jaraknya kurang dari 1 kilometer buat sampe ke sekolahmu!” tegur papanya Dira. “Mulai sekarang kamu naik sepeda aja ya ke sekolah, mobil papa yang biasanya kamu kendarai sudah terjual!” lanjut papanya sekaligus menegaskan.
“Tapi, pa, sepedaku kan sudah rusak semua!” protes Dira.
“Sepeda kamu sudah diperbaiki, besok tinggal kamu naikin aja tuh sepeda!” jelas papa.
“Oh, papa udah engggak sayang lagi ya sama aku? Anaknya tega disuruh naik sepeda ke sekolah yang jaraknya jauh begini” protes Dira.
“Bukan begitu maksud papa, kamu tau kan kalo papa ini kerja di Kementrian Lingkungan Hidup? Malu-maluin dong kalo keluarganya gak menjaga lingkungan! Sekarang pun, setiap hari Selasa papa harus mengendarai sepeda untuk menuju ke kantor!” jelas papa. Akhirnya Dira pun menyerah untuk melawan perintah papanya.
Keesokan harinya di rumah Dira...
Dira mengamati sekeliling rumahnya. “Ya, sekarang aman! Ternyata papa belum bangun, yes! Akhirnya gak usah naik sepeda!” pikirnya penuh kemenangan. Dira pun merasa menang dari papanya, ia pun langsung menuju ke luar untuk menemui supirnya, Pak Narto.
Ternyata di dalam mobil tidak ada Pak Narto! “Kemana nih Pak Narto?” pikirnya dalam hati. Dira pun mencari-cari Pak Narto ke seluruh bagian rumah. Di garasi, di dapur, di ruang tamu, di kamar mandi, tidak ditemukan Pak Narto.
Tiba-tiba papanya berbicara dan mengejutkan Dira. “Dir, nyari siapa kamu? Pak Narto? Hari ini kan Pak Narto libur, karena papa juga akan naik sepeda ke kantor, ini kan hari Selasa!”
Aduh, bagaimana Dira bisa lupa kalau hari ini adalah Selasa? “Ah sial! Gagal deh menghindari naik sepeda ke sekolah.” geram Dira dalam hati. Papanya memandang Dira dengan penuh kemenangan. “Hmm, kamu berusaha menghindar untuk naik sepeda ke sekolah ya? Sayangnya rencana kamu gak berjalan mulus hari ini! Udah jam berapa sekarang? Cepetan berangkat, nanti telat lho kamu!” kata papa.
Yah, akhirnya Dira pun terpaksa naik sepeda ke sekolah karena rencana yang tadinya tersusun rapi sekarang menjadi berantakan. Sialnya, Dira baru ingat kalau ada tugas PLH yang belum ia kerjakan. Ia pun buru-buru mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga.
Ketika sampai di perempatan Kantor Kecamatan, Dira bertemu Sita dan Anna. “Hei Dira, sekarang kamu naik sepeda ya ke sekolah? Katanya udah gak jaman? Haha, eh awas ada mobil dari arah lawanmu!” ledek Sita. “Ish, bisa diem gak sih? Bawel ya!” balas Dira dengan kesal.
Untungnya Dira ingat peringatan yang Sita berikan kepadanya. Karena tadi Dira hampir tertabrak mobil yang melaju dari arah yang berlawanan! Tapi Dira berada jauh di belakang Sita dan Anna, ia terlihat kelelahan mengendarai sepedanya karena belum terbiasa.
Ketika Sita dan Anna sampai di sekolah, waktu sudah menunjukkan pukul 06.45. mereka pun buru-buru menuju ke kelas. Anna pun bercerita kalau ia hampir habis kesabarannya dalam menghadapi Dira. “Emang dasar tuh si Dira, sombongnya minta ampun!” geram Anna. Sita juga menceritakan kejadian kemarin yang menimpa dirinya, Anna yang emosinya sedang meluap, seketika itu juga emosinya semakin meluap ketika Sita bercerita tentang itu.
Karena tahu sahabatnya sedang marah, Sita pun langsung menghibur Anna. “Udahlah, An. Orang kayak dia itu emang ribet deh, kita sih ga usah ambil ribet, yang simple aja lah!” hibur Sita. Anna pun langsung terhibur dan melupakan kejadian tadi.
Untungnya, sesampainya mereka sampai di kelas, Pak Iwan, guru PLH mereka, belum datang dan mereka telah selesai dengan tugas yang diberikannya. Ketika Pak Iwan datang, Dira belum juga datang. Lalu, Pak Iwan pun langsung menagih tugas yang diberikannya minggu lalu.
Pada saat itu juga, Dira pun datang dengan nafas yang terengah-engah. “Kamu ini, jam segini kok baru dateng? Kenapa kamu sampe ngos-ngosan begitu?” tanya Pak Iwan.
“Maaf, pak, saya tadi naik sepeda ke sekolah, saya belum terbiasa naik sepeda, tadi juga saya hampir nabrak mobil, pak.” Jelas Dira.
“Sekarang, mana tugasmu?” tanya Pak Iwan.
“Emm, itu pak.... Emm, saya belum buat tugasnya.” Dira mengaku.
“Kamu belom bikin tugasnya? Udah telat, belom bikin tugas pula! Mau jadi apa kamu? Sekarang, berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran ini selesai!” perintah Pak Iwan.
Ya, sungguh sial Dira! Sudah terlambat, belum mengerjakan tugasnya pula! Lalu, Pak Iwan pun menerangkan tentang gaya hidup yang ramah lingkungan. Seperti mengendarai sepeda, tidak menggunakan styrofoam sebagai alat makan, mengurang penggunaaan AC, menanam pohon, dan lain lain.
Mereka pun mendengarkan penjelasan Pak Iwan dengan serius, kecuali Dira. Ia terlihat sangat badmood hari ini, karena apa yang dijelaskan Pak Iwan sama sekali tidak menarik menurutnya. Tapi pada akhirnya Dira pun sadar setelah ia mendengarkan Pak Iwan dengan serius, bahwa bumi ini sudah rusak dan kita harus menjaganya dengan gaya hidup yang ramah lingkungan.
Bel istirahat pun berbunyi, tiba-tiba Dira menghampiri Sita “Sita, makasih ya udah mau ngingetin aku buat jaga lingkungan!” ucap Dira dengan tulus. “Kok kamu bilang terima kasih ke aku? Harusnya ke Pak Iwan dong!” jawab Sita dengan bingung.
“Ya karena kamu kan, akhirnya aku naik sepeda juga ke sekolah! Sebenernya papaku yang menyuruh, tapi karena melihat semangat kamu, mau ga mau aku malu dong? Kamu aja yang rumahnya jauh mau naik sepeda, kenapa aku yang rumahnya deket ga?” Dira mengaku dengan malu-malu.
“Oh, iya sama-sama! Oh iya, gimana kalo nanti pulang sekolah, kamu, aku, dan Anna pulang bareng aja?” usul Sita. Sebelum Dira menjawab, tiba-tiba Anna muncul dan berkata “Ya, Sita! Tentu saja aku mau!” jawabnya dengan yakin.
“Anna, aku ga ngomong sama kamu, aku ngomong sama Dira! Jadi gimana nih, Dir? Mau enggak?” tanya Sita.
“Ya pastinya iya dong!” jawab Dira dengan semangat.
“Yes, nanti pas pulang rame rame nih! Hehe” seru Sita dan Anna.
Mulai sekarang, Dira sadar kalau menjaga lingkungan itu sangat penting dan mulai sekarang Dira pun berteman dengan Sita dan Anna.
-THE END-
Sebelum posting ini gue udahin, gue mau minta maaf kalo misalnya ceritanya masih abal banget *maklum amatir, dan semua nama, tempat, ataupun yang lainnya dibuat atas dasar unsur KETIDAKSENGAJAAN! Inget itu! Oke, udahan sampe sini dulu ya, gue mau off, byeee ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar